Pendapat Saya tentang Motivation Letter.

by ai

Dalam berburu beasiswa (atau melamar S2/S3 di luar negeri pada umumnya), salah satu persyaratan yang paling bikin males adalah motivation letter. Pada dasarnya motivation letter–atau kadang disebut personal statement–adalah semacam esai, panjangnya sekitar satu halaman A4.

Isi motivation letter adalah latar belakang aplikan beserta alasan mengapa ingin studi di tempat yang dituju. Di sini saya akan menuliskan sedikit pendapat saya tentang motivation letter yang baik, tapi khusus untuk S2 di luar negeri. Karena saya yakin motivation letter untuk S3 punya “kunci kesuksesan” sendiri yang saya belum tahu. Hehe.

Ini adalah beberapa trik yang saya gunakan ketika menulis motivation letter.

50-50 Rule

Kadang kalau sedang menulis motivation letter, kita tergoda untuk cerita panjang lebar tentang diri kita dan prestasi-prestasi di masa lalu, sehingga kurang menunjukkan rencana di masa depan. Padahal rencana di masa depan adalah faktor penting bagi pihak universitas untuk memilih kandidat yang tepat.

50-50 rule adalah membagi motivation letter menjadi 50% cerita tentang prestasi dan latar belakang kita dan 50% rencana karier kita.

Be a Sniper.

Kesalahan terbesar yang bisa seseorang lakukan dalam membuat motivation letter adalah menggunakan motivation letter yang sama untuk aplikasi ke berbagai universitas. Dalam melamar S2, apalagi beasiswa, kita harus berprinsip seperti sniper: mengamati target, membaca situasi, mengambil ancang-ancang, kemudian melepaskan tembakan yang akurat. Jangan pakai machine gun, menembak membabi-buta dengan senjata yang sama, tapi belum tentu kena. Hehe.

Customize. Tailor each letter to the needs of a particular university. Yah, dengan prinsip ini, memang resikonya kita bakal jauh lebih repot ketika ingin apply ke banyak universitas sekaligus. But it’s worth it.

Details!

Ini masih berkaitan dengan prinsip sniper. Dalam membuat motivation letter, usahakanlah untuk mencantumkan informasi-informasi yang spesifik. Misalnya, daripada menulis

Saya tertarik belajar di universitas Anda karena kualitas risetnya yang sangat baik.

lebih baik menulis

Saya tertarik belajar di universitas Anda karena Anda adalah salah satu yang terbaik di dunia dalam bidang rekayasa tumbuhan. Saya telah membaca paper terbaru Anda tentang cara merekayasa pohon apel supaya menumbuhkan pepaya. (oke maaf contohnya ngaco -_-)

Nah, dengan demikian, pihak universitas tahu that we’ve done our homework–browsing sebanyak-banyaknya tentang universitas yang dituju.

No Drama.

Saya menghindari menulis kalimat berunsur drama, misalnya “Saya berasal dari keluarga kurang mampu, saya pengen banget kuliah di luar negeri tapi nggak ada biaya…” (walaupun saya bener-bener butuh beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Hehe) atau “Saya belajar kedokteran karena cita-cita Ayah saya adalah punya anak yang menjadi dokter, dan karena saya menyayangi keluarga saya, saya ingin membahagiakan mereka…”

Duh. Avoid the drama. Nobody cares.

Start Early.

Motivation letter bukanlah sesuatu yang bisa dibuat dalam waktu singkat. Susah loh bikinnya. Jadi sebaiknya kita mulai menulis sesegera mungkin, supaya ada waktu untuk revisi.

Dulu, motivation letter yang saya kirimkan adalah draft ketiga. Pertama kali saya nulis, saya merasa puas dengan hasilnya. Tapi pas seminggu kemudian saya baca lagi, kok jelek ya? Saya tulis lagi yang baru. Pas seminggu kemudian saya baca lagi, kok masih jelek? Saya tulis lagi yang baru, sampai saya puas walaupun sudah beberapa kali dibaca.

Oya, dulu saya menyelesaikan motivation letter sebulan sebelum periode aplikasi dibuka. Jadi selama periode aplikasi, saya bisa fokus ke surat rekomendasi dan persyaratan lain.

Get Someone Else to Read It!

Saya dan teman-teman saya yang sama-sama apply beasiswa, nggak malu-malu untuk saling menunjukkan motivation letter. Buat saya ini proses yang sangat penting. Begitu mereka baca tulisan saya, banyak input yang saya terima, misalnya kalimat ini nggak perlu, sebaiknya masukin kalimat ini, kalimat ini kedengerannya aneh, grammar salah, dan sebagainya. Mereka sangat membantu. :)

Begitulah beberapa pendapat saya. Bukan maksud hati ingin sotoy, cuma waktu dulu saya nulis motivation letter, saya nggak berhasil menemukan panduan yang pas di internet. Yah mudah-mudahan informasi ecek-ecek ini bisa bermanfaat. :)