Etika dalam Engineering

by ai

Esai ini adalah tugas yang saya buat untuk kuliah Etika Rekayasa dan Kapita Selekta. Mungkin bermanfaat kalau saya post di sini. :)

===================================================

Etika dalam Engineering

Pendahuluan

Etika dalam engineering adalah sekumpulan standar yang menentukan kewajiban engineer terhadap publik, klien, atasan, dan kepada profesinya itu sendiri. Etika akan menjadi pemandu untuk seorang engineer agar dapat meningkatkan kualitas pekerjaannya, sekaligus bertanggungjawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan publik. Etika dalam engineering adalah konsep yang sangat luas. Di dalamnya, terdapat poin-poin yang bersifat teknik hingga nilai-nilai kemanusiaan yang harus selalu dijunjung oleh setiap engineer.

Berbagai organisasi keprofesian dalam bidang engineering merumuskan kode etik yang berbeda-beda. Misalnya, kode etik untuk insinyur sipil dibuat oleh American Society of Civil Engineers (ASCE), dan kode etik untuk insinyur elektro dibuat oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE). Walaupun demikian, kode etik untuk seluruh profesi engineer memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan profesionalitas kerja.

Dalam bidang elektroteknik, IEEE telah merumuskan sepuluh poin kode etik bagi electrical and electronics engineers di seluruh dunia.

  1. Bertanggung jawab dalam membuat keputusan yang konsisten terhadap keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan publik, serta menghindari sekaligus menyingkap faktor-faktor yang membahayakan publik dan lingkungan.
  2. Menghindari konflik kepentingan dan menyingkap konflik kepentingan yang terjadi.
  3. Selalu jujur dan realistis dalam membuat pernyataan atau perkiraan berdasarkan data yang tersedia.
  4. Menolak penyuapan dalam segala bentuk.
  5. Meningkatkan pemahaman tentang teknologi, aplikasinya, dan konsekuensinya.
  6. Menjaga dan meningkatkan kompetensi teknis, serta hanya menerima pekerjaan teknis bila memiliki kualifikasi yang cukup (berdasarkan pelatihan atau pengalaman), atau bila telah mengungkapkan ketiadaan kualifikasi tersebut.
  7. Mencari, menerima, dan memberikan kritik yang jujur terkait dengan pekerjaan teknis, dengan tujuan mengidentifikasi atau mengoreksi kesalahan, serta menghargai kontribusi dan karya orang lain secara baik dan benar.
  8. Memperlakukan setiap orang secara adil tanpa mempertimbangkan ras, agama, jenis kelamin, kecacatan, usia, atau kebangsaan.
  9. Menghindari tindakan yang dapat melukai orang lain, properti yang dimilikinya, reputasinya, atau pekerjaannya.
  10. Membantu rekan kerja dalam pengembangan keprofesiannya dan mendukung mereka dalam mematuhi kode etik ini.

Berdasarkan sepuluh poin kode etik yang telah dirumuskan oleh IEEE, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya etika engineering adalah pedoman bagi engineer untuk menjaga tiga hal terpenting dalam profesinya: keselamatan, integritas, dan kompetensi.

Keselamatan

Bidang engineering adalah bidang yang menyangkut keselematan orang banyak dan lingkungan. Sebagai contoh, seorang insinyur sipil yang bekerja membangun jembatan, harus berupaya membangun jembatan sekokoh mungkin demi keamanan jutaan orang yang akan melintasinya. Masalahnya, konsep mengutamakan keselamatan dapat menghambat keuntungan finansial atau pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini dapat menjerumuskan engineer untuk memilih mengorbankan aspek keselamatan.

Sudah banyak musibah yang terjadi karena engineer di suatu perusahaan mengabaikan etika keselamatan demi meraih profit sebesar-besarnya. Salah satunya adalah peristiwa kecelakaan pesawat Adam Air di perairan Sulawesi pada tanggal 1 Januari 2007. Hasil investigasi menunjukkan bahwa penyebab kecelakaan adalah kerusakan komponen-komponen pesawat, yang sebenarnya sudah diketahui oleh para engineer tetapi tidak ditindaklanjuti, karena penggantian komponen tersebut memakan biaya besar dan akan merugikan perusahaan. Pesawat pun dibiarkan terbang. Akibatnya, pesawat jatuh bersama ratusan penumpang di dalamnya. Di sini engineer melakukan pelanggaran etika yang serius, yaitu tidak menyingkap, apalagi menghindari, faktor yang membahayakan keselamatan. Ada pelajaran penting yang dapat diambil dari kejadian ini: jika sudah menyangkut keselamatan, engineer harus berani memperjuangkan opininya, dengan berpegang pada analisis teknis yang akurat, meski harus menentang kebijakan korporasi. Jika korporasi tidak mengikuti rekomendasi engineer, secara etika, engineer wajib melaporkannya kepada pihak berwenang. Hal ini disebut whistleblowing, dan sering menjadi dilema bagi engineer.

Ada kalanya engineer harus melakukan hal-hal yang berbahaya untuk mengembangkan keilmuannya. Praktik ini sebenarnya tidak dianjurkan. Suatu tragedi pernah terjadi karena hal ini. Pada tanggal 26 April 1986, para engineers di sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir di Chernobyl ingin mengetahui ambang batas keamanan reaktor pada skenario-skenario tertentu. Reaktor dipaksa bekerja pada kondisi-kondisi tidak normal dan menyalahi standar keselamatan. Akhirnya terjadilah ledakan yang dianggap sebagai kecelakaan reaktor nuklir terbesar sepanjang sejarah, membunuh ribuan orang (sebagian besar karena kanker), dan meninggalkan radiasi nuklir di Chernobyl sampai sekarang. Kecelakaan ini mengajarkan engineer untuk berhati-hati dalam bereksperimen. Prinsip yang harus dipegang adalah “do it safely or do not do it at all”.

Integritas

Sebagai orang yang memiliki pengetahuan teknis lebih daripada orang lain, wajar bagi seorang engineer untuk menerima tanggung jawab lebih di tempatnya bekerja. Pendapat seorang engineer sering dijadikan acuan untuk mengambil keputusan bisnis, misalnya memilih supplier. Oleh karena itu engineer sering dihadapkan dengan keadaan yang menguji integritasnya. Tidak jarang supplier menawarkan hadiah-hadiah atau bentuk penyuapan lain pada seorang engineer dengan tujuan meningkatkan peluangnya untuk memenangkan kompetisi dengan supplier lain. Jika hal ini terjadi, engineer berkewajiban menolak segala bentuk hadiah dan penyuapan ini.

Menurut para engineer ahli dari Texas A&M University, setidaknya ada empat alasan yang membuat penyuapan tidak diperbolehkan. Pertama, penyuapan merusak sistem ekonomi kapitalis. Sistem ekonomi kapitalis berprinsip pada persaingan terbuka, di mana semua orang membeli produk terbaik dengan harga terbaik. Penyuapan mendorong orang untuk tidak membeli produk yang paling efisien. Kedua, penyuapan hanya menguntungkan pihak dengan sumber daya dana yang banyak. Hal ini merusak prinsip keadilan. Ketiga, penyuapan menghilangkan rasa kepercayaan masyarakat kepada institusi yang melakukannya, dan pada akhirnya akan menghilangkan rasa kepercayaan masyarakat secara keseluruhan. Keempat, penyuapan memperlakukan manusia sebagai komoditas yang integritasnya dapat diperjualbelikan. Kondisi ini membuat manusia kehilangan respek kepada sesamanya.

Kesulitan utama dalam menyikapi penyuapan adalah tidak adanya batas yang jelas antara hadiah atau pemberian yang dapat digolongkan sebagai penyuapan dan yang tidak. Dalam hal ini, seorang engineer cukup berpatokan pada kode etik yang ditetapkan oleh tempatnya bekerja. Sebagai contoh, perusahaan IBM mendefinisikan penyuapan sebagai hadiah dari supplier, pelanggan, atau siapapun dalam lingkungan bisnis, kepada karyawan IBM atau keluarganya. Jika seorang engineer IBM menerima hadiah seperti yang disebutkan, ia harus segera melaporkannya pada manajer. Perusahaan lain seperti Texas Instruments mendefinisikan penyuapan sebagai hadiah yang berpotensial mempengaruhi keputusan bisnis penerimanya. Kebijakan perusahaan mengenai penyuapan hendaknya dijadikan salah satu pertimbangan ketika engineer memilih tempat bekerja. Walaupun demikian, apapun kebijakan perusahaannya, seorang engineer harus menggunakan akal sehat untuk dapat mengenali tindak penyuapan.

Nilai-nilai lain yang berkaitan dengan integritas dan harus dijaga oleh seorang engineer adalah kejujuran dan sikap tidak diskriminatif. Tentu saja kedua hal ini adalah nilai-nilai kebaikan universal yang harus dimiliki oleh setiap manusia, tidak hanya engineer. Engineer, dalam kondisi apapun, tidak boleh meninggalkannya.

Kompetensi

Kunci dari pekerjaan seorang engineer adalah kompetensi teknis yang dimilikinya. Secara etika, engineer berkewajiban untuk secara terus-menerus berupaya meningkatkan pengetahuan teknisnya, misalnya dengan mengikuti pelatihan, konferensi, atau pendidikan formal. Mengapa peningkatan kompetensi engineer begitu penting? Pada tahun 1976, peneliti dari Swiss Federal Institute of Technology, Zurich, melakukan penelitian dengan menganalisis 800 kasus kegagalan engineering yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, dan mencari tahu penyebabnya. Ternyata, faktor utama yang memicu terjadinya kecelakaan-kecelakaan itu adalah “insufficient knowledge”, atau kurangnya pengetahuan. Faktor ini merupakan penyebab dari 36% kecelakaan yang terjadi, sementara faktor lain seperti kelalaian hanya sekitar 14%. Hasil ini membuktikan krusialnya pengetahuan dan kompetensi engineer bagi aspek keselamatan.

Keselamatan bukanlah satu-satunya alasan bagi engineer untuk terus meningkatkan kompetensinya. Bagaimanapun juga, tujuan engineering adalah meningkatkan kualitas hidup manusia dengan menggunakan teknologi. Dapat dikatakan, kemajuan umat manusia berada di tangan engineer. Engineer dituntut untuk berinovasi, dan untuk berinovasi engineer harus memiliki kompetensi yang memadai.

Kode etik engineer tidak memperbolehkan engineer mengerjakan pekerjaan di luar kompetensinya. Selain menurunkan kualitas hasil kerjanya, hal ini juga dapat berbahaya. Engineer hanya boleh menerima pekerjaan di luar kompetensinya jika ia telah menjelaskan kepada rekan kerjanya bahwa ia tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan. Menutup-nutupi kekurangan kompetensi bukan hanya tidak profesional, tetapi juga mencoreng integritas engineer.

Kesimpulan

Etika engineering harus selalu dijaga untuk menjaga kualitas pekerjaan seorang engineer. Hal ini dibuktikan oleh banyaknya kegagalan engineering yang dipicu oleh kurangnya etika. Selain itu, etika dalam engineering diperlukan untuk menjaga kehormatan profesi engineering itu sendiri. Bila engineer sanggup menjunjung etika dan memiliki kompetensi teknis yang memadai, engineering akan mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Referensi

http://www.ieee.org/membership_services/membership/ethics_code.html

http://www.matscieng.sunysb.edu/disaster/

http://en.wikipedia.org/wiki/Engineering_ethics

http://www.engineering.com/Library/ArticlesPage/tabid/85/articleType/ArticleView/articleId/71/categoryId/7/Chernobyl.aspx

http://www.engineering.com/Library/ArticlesPage/tabid/85/articleType/ArticleView/articleId/66/categoryId/7/Accepting-Gifts.aspx