I’ll be There.
You and I must make a pact, we must bring salvation back
Where there is love, I’ll be there
I’ll reach out my hand to you, I’ll have faith in all you do
Just call my name and I’ll be there
I’ll be there to comfort you,
Build my world of dreams around you, I’m so glad that I found you
I’ll be there with a love that’s strong
I’ll be your strength, I’ll keep holding on
Let me fill your heart with joy and laughter
Togetherness, well that’s all I’m after
Whenever you need me, I’ll be there
I’ll be there to protect you, with an unselfish love that respects you
Just call my name and I’ll be there
If you should ever find someone new, I know he’d better be good to you
cause if he doesn’t, I’ll be there
Don’t you know, baby, yeah yeah
I’ll be there, I’ll be there, just call my name, I’ll be there
(just look over your shoulders, honey – oo)
I’ll be there, I’ll be there, whenever you need me, I’ll be there
Don’t you know, baby, yeah yeah
I’ll be there, I’ll be there, just call my name, I’ll be there…
===========================================================================
A very beautiful song, originally performed by Jackson 5. If I was asked, “What’s the definition of love?”, this song would probably be my answer.
Farewell.
Sebelum berangkat ke Jepang, Insya Allah 9 hari lagi, tanggal 28 September kemarin bikin farewell party kecil-kecilan: makan malem bareng beberapa temen Elektro di Suis Butcher. Gw sempet protes, harusnya farewell tuh dibikinin sama orang-orang yang ditinggalkan buat orang yang mau pergi, eh ini kok malah gw yang nraktir -_-. Hehehe.
Tapi nggak apa-apa, karena gw tidak sendirian. Nraktirnya patungan sama Keke yang mau pergi juga ke Jepang dan Wiwid yang kebetulan ulang tahun hari itu (happy birthday, Wid ^^). Acaranya cuma makan-makan, ngobrol ngalor ngidul, foto-foto tak terkendali. Yeah, seperti biasa kalau lagi ngumpul lah.



Ada kejadian dodol malam itu. Jadi kan Keke dikasih kado kenang-kenangan, tapi gw nggak. Gw sih sebenernya fine-fine aja, karena gw emang berangkatnya masih lama. Tapi pas foto-foto, Keke disuruh berpose dengan kadonya. Terus gw keceplosan, “Gw kok nggak dikasih kado?”. Terus orang-orang pada awkward gitu. Ternyata… kado buat gw diselipin di dalem tas gw dan gw sama sekali nggak nyadar sampe pulang aja dong. Padahal gw buka-tutup tas untuk ngeluarin duit, masukin kamera, dll, tapi tetep nggak nyadar padahal kadonya gede. Mungkin karena gelap kali ya? Yeah, tetep aja parah. Sungguh parah. Hehehe. Gw baru nyadar pas di rumah Wiwid (malemnya gw nginep di rumah Wiwid karena kosan udah nggak bisa dipake tidur. Terima kasih lagi untuk Wiwid ^^). Gw buka tas, dan ada bungkus kado yang isinya piyama. Hwaduh jadi nggak enak banget. Maaf ya teman-teman (_ _). Lagian lu kenapa nggak ngasihin kadonya langsung aja sih kayak ke Keke? Hehehe. Tapi piyamanya langsung gw pake kok malem itu ^^
Anyway, farewell kemarin nggak emosional kok. Sepertinya gw juga denger Peter bilang, “Kok nggak ada nangis-nangis sih?”. Padahal berdasarkan cerita Rachma yang tahun lalu juga berangkat student exchange setahun ke Jepang, farewell itu harusnya berlinangan air mata. Beberapa analisis gw:
- Karena perginya cuma setahun.
- Karena komunikasi masih bakal gampang. Kan ada Facebook, YM, email, Skype, dll. ^^
- Karena kami memang bukan orang-orang sentimentil. Hehehe.
Besok paginya, setelah pamit sama Pak Trio, gw langsung meninggalkan Bandung. Insya Allah nggak balik lagi sampe tahun depan, supaya kosan bisa dilepas awal Oktober. Insya Allah selama setahun gw nggak bakal ketemu kampus, kosan, Simpang Dago, EF, Bebek Borromeus, PVJ, Ciwalk, BIP, SuperIndo, Plaza Dago, BSM… loh kok yang terakhir mall semua?
Nggak bakal ketemu sudut-sudut kampus yang biasa gw satronin: labtek VIII, mushala lantai 3, selasar labtek V, kelas-kelas, kantin Bengkok, Indonesia Tenggelam, HME, PAU, perpus pusat. Gw sih biasa-biasa aja, soalnya pas balik lagi tahun depan, mungkin gw akan eneg lihat gedung-gedung ini karena pengen cepet lulus
.
Tapi, ada sesuatu yang mungkin akan gw kangenin.
Pada suatu siang, dua hari setelah farewell di Bandung, gw sedang berada di stasiun Gambir. Gw memandangi emas di ujung Monas, duduk bareng nyokap di kursi-besi-Gambir-yang-kurang-nyaman-itu. Gw menunggu kereta Pakuan tujuan Bogor yang akan dateng di jalur 3. Di jalur 4 ada kereta Argo Gede. Nyokap gw yang cantik itu (ehm) pun bertanya, “Pengen ke Bandung, Kak?”. Gw jawab dengan cengengesan, “Pengen. Tapi udah nggak ada kosan. Hehe.”
Guess what she said?
“Kak, tahun depan kalau udah balik ke Bandung lagi, Kakak bakal sedih lho. Nanti Kakak di Bandung, di kampus, tapi beberapa temen Kakak udah nggak ada. Bakal jalan di jalanan yang biasa dilewatin bareng-bareng, tapi ntar nggak ada siapa-siapa. Sedih lho Kak.”
Ugh. Gw yang tadinya biasa-biasa aja, jadi rada gimana… gitu. Iya juga ya. Tahun depan, walaupun tetep bakal di ITB, tapi dunia gw akan berbeda. Gw nggak tau seberapa besar perbedaannya, karena gw nggak tau temen-temen gw yang bakal lulus Juli berapa orang, yang Oktober berapa orang, yang Maret berapa orang, yang Juli tahun depannya lagi berapa orang. Hehehe. Gw sih berdoanya, pas gw balik ke Bandung, kampus udah kosong, karena berarti semuanya udah lulus. Semangat, ya! ^^
Tapi yang pasti, dunia gw yang selama ini udah bikin gw nyaman, udah selesai. Selesai pada malam hari, tanggal 28 September 2009 itu.
Hey, but life is about choices, right? I chose to go, so I have to face the fact that I will be missing out on a lot – in terms of events happening back home. Nah, gw kan udah pilih untuk berangkat. Insya Allah, gw bisa dapet ilmu dan pengalaman yang nggak semua orang bisa dapetin. Insya Allah, bakal bagus untuk diri gw. Pengalaman pertama ke luar negeri nih. Hehehe. Kesempatan kayak gini, orang bodoh macam apa yang mau sia-siain? Now I’m excited. ^^
My Coming-of-Age Ritual.
Berdasarkan Wikipedia:
Coming of age is a young person’s transition from childhood to adulthood. It can be a simple legal convention or can be part of a ritual, as practiced by many societies.
The term coming of age is also used in reference to different media such as stories, songs, movies, etc. that have a young character or characters who, by the end of the story, have developed in some way, through the undertaking of responsibility, or by learning a lesson.
Coming of age is a young person’s transition from childhood to adulthood. It can be a simple legal convention or can be part of a ritual, as practiced by many societies.The term coming of age is also used in reference to different media such as stories, songs, movies, etc. that have a young character or characters who, by the end of the story, have developed in some way, through the undertaking of responsibility, or by learning a lesson.
Coming-of-age yang bersifat ritual bisa bermacam-macam bentuknya. Yang gw tau, ada lompat batu di pulau Nias, Barmitzvah-nya orang Yahudi, upacara-entah-apa-namanya-gw-lupa di Jepang.
Kalau menurut gw, ritual coming-of-age yang sebenar-benarnya adalah merantau. Keluar dari rumah orang tua, tinggal di kota lain, hidup sendiri. Waktu pertama kali pindah ke Bandung untuk kuliah, gw merasa sepertinya itulah titik tolak kedewasaan gw. After going through my school years as a spoiled-little-brat, rasanya keren aja, ngekos di Bandung, semua urusan gw urus sendiri. Nggak ada yang masak buat gw, nggak ada ngebersihin kamar gw, nggak ada yang manjain ketika sakit. Hahaha.
Tapi nggak lama kemudian gw sadar, itu bukan apa-apa. Apa sih susahnya kos di Bandung? Jarak dari rumah di Bogor cuma 2,5 jam perjalanan. Di kosan segalanya serba praktis. Selain itu, Bandung adalah kota modern, which is very easy to live in. Duit habis? Tinggal telepon Ibu. Hehehe. Akhirnya setelah tiga tahun lebih di Bandung, gw masih merasa cupu. Merasa bukan apa-apa dibandingkan temen-temen yang berasal dari luar Jawa (bahkan luar Jawa Barat -_-). Bukan apa-apa dibandingkan temen-temen yang menghabiskan masa SMAnya di sekolah berasrama. Payah deh.
I need more challenge. A real coming-of-age ritual.